Survei terbaru mengungkap daftar 10 jurusan bergaji rendah yang paling menimbulkan penyesalan di kalangan lulusan. Di program studi yang disebutkan, jurnalisme dan sosiologi termasuk jurusan yang banyak disesali karena harapan gaji yang tidak terpenuhi.

Temuan tersebut memantik perbincangan ulang tentang harapan mahasiswa, nilai pendidikan liberal arts, dan hubungan pilihan jurusan dengan prospek pendapatan. Meski tidak semua lulusan mengalami kekecewaan, temuan ini memberi sinyal kepada calon mahasiswa dan pembuat kebijakan pendidikan untuk mengevaluasi harapan karier dan dukungan pasca-kelulusan.
Mengapa lulusan menyesal memilih jurusan ini
Kekecewaan lulusan terhadap jurusan yang disebut bergaji rendah umumnya berakar dari ketidaksesuaian ekspektasi awal dan realitas pasar kerja. Banyak mahasiswa memasuki program studi dengan asumsi bahwa gelar akan otomatis membuka akses ke penghasilan tinggi, padahal kondisi lapangan kerja dan struktur industri menentukan seberapa besar remunerasi yang tersedia.
Selain itu, beberapa jurusan berorientasi pada aspek sosial dan humaniora seringkali menawarkan jalur karier yang tidak selalu berupa pekerjaan bergaji besar pada awal karier. Faktor lain yang berkontribusi termasuk kurangnya pengalaman kerja praktis selama studi, keterbatasan jaringan profesional, dan kurangnya pemahaman tentang komponen keterampilan yang paling dicari oleh pemberi kerja.
Dampak pada karier dan pilihan lanjutan
Penyesalan atas pilihan jurusan bisa berdampak pada keputusan karier lanjutan. Sejumlah lulusan memilih melanjutkan pendidikan, mengambil pelatihan keterampilan, atau bahkan beralih profesi untuk mengejar penghasilan yang lebih baik. Langkah-langkah seperti program magang, sertifikasi profesional, dan pembelajaran berbasis keterampilan sering disebut sebagai jalan keluar yang realistis bagi mereka yang merasa jurusan awalnya kurang menguntungkan secara finansial.
Namun, penting diingat bahwa tidak semua lulusan jurusan bergaji rendah mengalami nasib yang sama. Beberapa mampu memanfaatkan keunggulan non-finansial dari jurusan mereka, seperti kemampuan berpikir kritis, penulisan, dan analisis sosial, untuk membangun karier yang memuaskan baik secara profesional maupun personal.
Saran untuk calon mahasiswa dan pembuat kebijakan
Bagi calon mahasiswa, temuan ini menegaskan perlunya perencanaan yang matang sebelum memilih jurusan. Mengevaluasi minat, potensi pasar kerja, dan peluang pengembangan keterampilan praktis harus menjadi bagian dari keputusan. Calon mahasiswa disarankan mencari informasi tentang jalur karier alumni, peluang magang, dan kemungkinan kombinasi jurusan atau mata kuliah tambahan yang meningkatkan daya saing di pasar kerja.
Untuk institusi pendidikan dan pembuat kebijakan, hasil survei ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat jembatan pendidikan dan dunia kerja. Penambahan komponen vokasional, kerjasama industri, dukungan karier, serta program pengembangan keterampilan dapat membantu lulusan memaksimalkan peluang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan mengurangi tingkat penyesalan di kemudian hari.
Pada akhirnya, pilihan jurusan tetap merupakan keputusan pribadi yang dipengaruhi banyak faktor. Data yang muncul dari survei ini membuka ruang diskusi tentang bagaimana sistem pendidikan dan individu dapat bekerja sama untuk menyelaraskan ekspektasi dan realitas pasar kerja, sehingga lulusan memperoleh nilai maksimal dari investasi pendidikan mereka.
