Di tengah kemajuan pendidikan yang diharapkan semakin baik di Indonesia, muncul pemandangan yang sangat memprihatinkan dari salah satu madrasah di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk mengembangkan potensi siswa justru tampak seperti kandang kambing, dengan segala keterbatasan yang ada, termasuk rendahnya upah pengajarnya. Melalui kisah ini, kita menelaah keadaan yang dialami oleh Guru Mansyur, pengajar yang berjuang sendirian di madrasah tersebut.
Madrasah yang Tersisih
Kondisi gedung madrasah yang kumuh menjadi sorotan utama. Dalam beberapa tahun terakhir, gedung ini tidak mendapatkan perhatian berarti dari pemerintah atau donatur. Atap yang bocor, dinding yang retak, serta kebersihan yang sangat minim membuat ruangan belajar terasa tidak nyaman. Hal ini jelas berimplikasi pada semangat belajar siswa yang tentunya ingin mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.
Perjuangan Seorang Guru
Salah satu sosok yang berjuang untuk memperbaiki keadaan adalah Guru Mansyur. Ia mengabdikan dirinya untuk mengajar di madrasah tersebut dengan imbalan upah yang sangat minim, yaitu Rp 250 ribu per bulan. Meskipun kondisi tempat dan fasilitas tidak mendukung, Mansyur tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya. Dedikasi itulah yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari pihak terkait.
Minimnya Dukungan dan Anggaran
Keberadaan madrasah ini seakan terpinggirkan dari perhatian pemerintah dan lembaga sosial. Minimnya anggaran menyebabkan madrasah tidak dapat melakukan perbaikan apapun. Hal ini berbuntut pada kelayakan pendidikan yang semakin tidak memadai. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin pendidikan di Kabupaten Gowa akan stagnan dan siswa-siswa kehilangan peluang untuk berkembang secara optimal.
Pentingnya Perhatian terhadap Pendidikan
Pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama dalam pembangunan suatu daerah. Dukungan finansial dan non-finansial dari pemerintah sangat penting agar fasilitas pendidikan dapat memenuhi standar yang layak. Pendidikan yang baik tidak hanya bergantung pada kurikulum yang baik, tetapi juga pada fasilitas yang mendukung, seperti gedung yang layak dan tenaga pengajar yang terlatih.
Kesadaran Masyarakat dan Tanggung Jawab Bersama
Kondisi memprihatinkan ini juga menuntut kesadaran dari masyarakat sekitar. Dukungan dari orang tua siswa dan tokoh-tokoh masyarakat sangat diperlukan untuk mendukung keberlangsungan madrasah. Melalui penggalangan dana atau kerja sama dengan pihak ketiga, ada harapan untuk perbaikan fasilitas dan peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Kerjasama antara masyarakat dan pemerintah harus terjalin erat untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.
Masa Depan Pendidikan yang Harus Diperjuangkan
Dari kisah Guru Mansyur dan kondisi madrasah tersebut, tampak betapa pentingnya perjuangan untuk pendidikan yang berkualitas. Pengajar yang tidak hanya sekadar menerima gaji, tetapi juga menganggap diri mereka sebagai bagian dari perubahan sosial di masyarakat. Melalui keberanian dan komitmen, mereka dapat menciptakan dampak yang lebih besar untuk generasi mendatang.
Dengan meninjau kembali situasi ini, kita dihadapkan pada pertanyaan: apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung pendidikan di daerah-daerah yang terpinggirkan? Harapan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga harus dirangkul oleh seluruh elemen masyarakat. Sebuah gerakan kolektif perlu dibangun agar pendidikan yang layak dan berkualitas dapat dirasakan oleh semua anak tanpa memandang kondisi lingkungan.
Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan adalah fondasi bagi masa depan. Melalui cerita Guru Mansyur dan madrasah di Gowa, kita diingatkan akan pentingnya memprioritaskan pendidikan dalam setiap kebijakan dan tindakan. Perlu adanya perhatian serius dari pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak untuk membenahi kondisi pendidikan di daerah tersebut. Mari bersama-sama berjuang untuk menciptakan perubahan positif demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita.

