Astronomi adalah cabang ilmu yang berkembang pesat di dunia. Indonesia, dengan letak geografisnya yang unik, dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang bisa berkontribusi lebih banyak di cabang ilmu ini.

Keberadaan jurusan Astronomi secara historis tidak dapat dipisahkan dengan didirikannya Observatorium Bosscha ITB pada tahun 1923. Selain mempelajari Fisika, Matematika atau pengamatan, seorang mahasiswa Astronomi dituntut juga untuk memahami pemrograman, instrumentasi, menulis makalah, presentasi, hingga berkomunikasi dengan masyarakat.

Apabila sesorang lulusan Astronomi ingin melanjutkan karirnya di bidang astronomi, maka dianjurkan untuk meneruskan pendidikannya hingga jenjang S3. Akan tetapi, jika dia tidak memilih untuk berkiprah sebagai astronom peneliti, maka berbekal pengetahuan beragam yang dipelajari di astronomi, serta dasar logika Fisika dan Matematika yang kuat, lulusan yang memutuskan untuk tidak menekuni dunia astronomi akan memiliki profesi yang beragam. Ada yang berkiprah (dan berprestasi) di bidang satelit dan telekomunikasi, industri, manajemen, keuangan, penerbit, teknologi informasi, instrumentasi, ekonomi, desain, filsafat, industri pertelevisian, pendidikan, seni, dan ada yang kemudian berkiprah sebagai entrepreuneur.

Pengalaman kerjasama secara individual maupun institusional telah diperoleh dengan lembaga-lembaga nasional (LAPAN, Planetarium dan Observatorium DKI Jaya), maupun internasional (SRON, University of Amsterdam, University of Leiden di Belanda, Kyoto University, The University of Tokyo, National Astronomical Observatory, Gunma Observatory di Jepang, AAO di Australia, India, dan USA).

 

Referensi:

http://www.as.itb.ac.id/profile (diakses pada 6 Maret 2015)

http://langitselatan.com/2014/07/18/di-mana-saya-bekerja-kalau-kuliah-di-astronomi/ (diakses pada 6 Maret 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *